10++ Fakta Hari Pahlawan yang Wajib Diketahui Anak Jaman Now (Bagian 1)



Hari ini, Kamis tepatnya 10 November tahun 2022, merupakan peringatan hari Pahlawan yang fenomenal. Sekaligus menjadi bukti patriotisme dari sejarah hebat bangsa Indonesia yang hingga kini tetap tertanam di sanubari. 

Generasi Jaman Now yang tumbuh dengan sering terpapar informasi media sosial harus tahu perjuangan pahlawan Indonesia yang harus dikenang dan dijadikan teladan serta nilai-nilai untuk membangun bangsa ini menjadi lebih bermartabat.

Hari Pahlawan berawal pada Peristiwa 10 November 1945 dimulai dari Kota Surabaya, Jawa Timur.

Peristiwa ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini juga merupakan salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. 

Peristiwa ini menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.(Ricklefs 1991 : 217)

1. Pertempuran tanggal 10 November terjadi di Kota Surabaya

Merupakan pertempuran pertama setelah Indonesia Merdeka, dan menjadi salah satu perang paling hebat yang pernah terjadi di dalam Sejarah Republik Indonesia.

Darah yang tertumpah serta air mata yang tercurah membasahi bumi Surabaya. 

2. Pertempuran 10 November dipicu oleh kedatangan Belanda.

Belanda tidak terima dengan adanya kedaulatan Indonesia, mereka datang ke Indonesia membonceng tentara Inggris serta NICA.

Lantas terjadilah agresi militer Belanda yang dilawan oleh pasukan Indonesia. Dilatarbelakangi karena Belanda ingin menduduki Indonesia setelah merdeka dan Jepang yang telah menyerah kepada Pasukan Sekutu.

3. Hati para pejuang menjadi terluka dan marah.

Bermula dari pasukan Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada malam tanggal 19 September 1945, yaitu pada pukul 21.00, mereka mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa adanya persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.

20 September 1945, atau keesokan harinya pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena menganggap pihak Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia. Pemuda hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan tak terima dengan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

4. Perundingan berlangsung rumit dan menegangkan

Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa, lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.

Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato.

Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.

Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

5. Keberanian dan aksi nekat Para Pemuda

Beberapa pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali.

Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik ‘Merdeka‘berulang kali.

6. Bermula dari dari Perang 27 Oktober

Pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara AFNEI.

Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang memakan banyak korban baik di militer Indonesia dan Inggris maupun sipil di pihak Indonesia.

Akhirnya Inggris meminta bantuan kepada Ir Soekarno melalui D.C. Hawthorn untuk meredakan emosi rakyat Surabaya.

Saat situasi seperti itu Ir.Soekarno tak berkata satu kata pun, bahkan di surabaya suasana semakin memanas.

Bersambung ke Bagian 2 : Tekan disini untuk membaca Bagian 2

Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.